Khilaf itu Mengaku Cinta

By pitzputz

6 April 2011

Tag: , ,

Category: fiksi

7 Comments »

01.00 WIB. Sudah lewat tengah malam rupanya, ku pikir kamu akan pulang esok pagi, sama seperti malam-malam sebelumnya. Bruk..bruk..bruuk…Mataku masih saja sulit terbuka ketika gedoran itu kembali memaksa. Entah kenapa, tiba-tiba saja jiwaku kembali mengkerut, kecut, takut, keberanian yang kutata sejak sore tadi luntur seketika. Ah tak semestinya aku menggerutu, maka seperti biasa, aku harus bergegas membuka pintu dan mencoba tersenyum padamu.

Hey lagi-lagi aku mencium bau itu, bau yang selalu membuatku mual seketika, hingga aku terpontang-panting berlari kebelakang, ketika ada yang mendesak ingin segera dimuntahkan oleh perutku. Dan seperti yang sudah kuduga, segera saja engkau terhuyung menghampiri. Kali ini belaian yang pantas kuterima meninggalkan bekas lebih dalam dari sebelumnya, membara diatas luka yang belum mengering sempurna. Aku membatu, sebab percuma saja ikut bicara, jika hanya menambah lama siksa yang kuterima. Ah Lelakiku, kamu pasti sedang khilaf saat ini…aku takkan lelah mengampuni, sebab cintaku jauh lebih dalam dibanding luka yang selalu kau suguhkan.

* *

Malam ini kamu pulang lebih awal dari biasanya. Pakaianmu berantakan, ada memar di ujung alis, juga segaris sobek di pipi kirimu. Lebih baik tidak kutanyakan apa perihalnya, aku takut jika nanti menyinggung hatimu maka amarah semakin membuncah. Tergopoh aku mengambil kain dan es batu, ketika serta merta kamu mencegat dilorong ruang tamu dan dengan sengaja mendorong tubuhku hingga membentur daun pintu. Enteng, tak kurasakan sakit sedikitpun, ku kira aku sudah sangat terbiasa dengan tanda kasihmu. Sekali lagi aku yakin, Lelakiku, kamu pasti sedang khilaf saat ini…namun aku takkan lelah mengampuni, sebab cintaku jauh lebih kekar dibanding kepalan yang rutin kau hampirkan.

* * *

Siang ini langit begitu tenang, biru tanpa kelabu sedikitpun begitu pula dengan hatiku. Lelakiku, tidurmu kali ini berhias senyum, kita berpelukan nyaris bagai takkan terpisahkan. Bahwa yang ku ingat hanyalah, tadi sempat bertengkar hebat denganmu, lalu tanpa sadar telah aku sematkan sebilah pisau dapur tepat di lambung kananmu, serta mengakhirinya dengan menggores putus nadiku. Aku tahu benar, setelahnya kita tetap berpelukan dibanjiri dengan merah yang bersimbah. Dan aku yakin, Lelakiku, kita hanya sedang khilaf saat ini…entah Tuhan mengampuni atau tidak, aku tak peduli. Yang ku tahu cintaku jauh lebih tenang dibanding damai yang ditawarkan Tuhan.

* end *

 

p.s. STOP VIOLENCE AGAINST WOMEN

Kepingin nulis, jadinya malah kaya gini. Yawdah iseng-iseng menyoal fiksi dalam rangka kartinian 😀

Iklan

7 Responses to “Khilaf itu Mengaku Cinta”

  1. nice posting….cuma akhinya sediit mengerikan…he..he..he..

  2. >>> “entah Tuhan mengampuni atau tidak, aku tak peduli. Yang ku tahu cintaku jauh lebih tenang dibanding damai yang ditawarkan Tuhan.”

    knp sampai kalimat seperti itu yang keluar?!?!?

    • bisa jadi ini dia salah satu tanda dekatnya kiamat, banyak yang sudah nda takut lagi sama Tuhan…
      semoga kita bukan termasuk golongan yang sesat 🙂

  3. lelakiku, aku takkan pernah jujur katakan bhw kau adalah laki laki kesepuluh dalam pelukanku. kerna aku tak ingin seperti ikan yg kekurangan udara yg mengalir dari seluruh pori tubuhmu. juga akan sulit menemukan lelaki yg selalu bisa memaafkanku bahkan untuk kesalahan yg belum kubuat. ah lelakiku, bagaimana setiap saat rinduku tidak mendesir kalau mengingat kau selalu mnyentuh dan mencumbui tubuhku dengan rasa hormat ? Lelakiku, rasanya setiap malam selalu menjadi mendebarkan lagi, kerna selalu menjadi tenteram dipelukmu….dipangku bumi yg tertidur. (kontras yg bisu)

  4. aku merasa berguru padamu dalam hal ”membebaskan imajinasi dan kata kata dari common logical”. Gaya bertuturmu ‘menuju’ kearah Pramoedya. Kuulangi lagi : teruslah menulis….pasti aku baca….aku ingin satu saat bisa terbit novel hebat dr tanganmu…dari pikiranmu…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: