Sampur Sang Dewi Bulan

By pitzputz

11 April 2011

Tag:

Category: meracau

5 Comments »

Ya, kurasa malam inilah saatnya. Setelah sekian warsa dipaksa bersembunyi dibalik perdu, selendang kuning gading bertahta manik-manik perak dan ungu. Angin mendesir, kulihat purnama sudah sampai puncak. Sedetik saja aku goyah, saat selendang sudah menyampir di bahu. Oh Hyang…ingin rasanya meminjam kekuatan srikandi, namun tak genap waktu. Aku harus bergegas, secepat yang ku mampu, menjumpai Pangeran Tarub ku, lantas mbruwah menuntaskan rindu.

Hai purnama, pandanglah dengan seksama. Aku bukanlah Nawangwulan, hanya kebetulan saja piawai memainkan selendang, ya selendang yang pernah aku ambil paksa dari genggamnya. Dan malam ini akan ku persembahkan tarian magis merayu-rayu, saat bulan tengah penuh, dan angin mulai menyeluruh.

Kamu cemburu? Mengapa halilintar mulai menggetar menggema? Bukankah sudah ku bilang padamu, purnama jangan terburu-buru beranjak, lakonku belum jua purna satu babak. Sebentar, tunggu sajalah dulu, hingga aku puas terbenamkan cumbu.

Halilintar membuta membahana seperti tak rela. Purnama bercerai, langit utara kian berkarat, dan sang pangeran begitu saja terkulai. Edan semua, ternyata tarianku alpa mantra. Selendang sampur kuning gading membumbung naik bagai tertiup cerobong pabrik, terus, meninggi, kembali menuju bumi para dewi.

Sementara aku, lebur, menyerpih, berserak-serak terkubur rindu.

Iklan

5 Responses to “Sampur Sang Dewi Bulan”

  1. kesengsaraan apalagi ini…kenapa begitu cepat pergi ketika belum tuntas kucumbui? Sukmamu moksa mengejar selendang gading itu. Kupeluk wadhagmu , juga kucium bening bola matamu yg kini diam tanpa cahaya. Tubuhku memang utuh, tapi rasaku dirajam ribuan panah, seperti Abimanyu di kurusetra. Kubopong kunarpamu, kuhamparkan di altar batu tempat biasa kita mengagungkan asmaNya. Kujaga dan kurengkuh semalaman. Dan dalam kelelahan dan terluka lahir batin itu…..Sang Hyang Wenang berbisik kepadaku : ”memang sepasang roh kalian dulu telah kujodohkan di langit…namun maafkan kalau akhirnya kalian tak pernah berpasangan di bumi…”. Karena Yamadipati lupa tidak melepaskan sepasang roh kalian dalam musim dan waktu yg sama….”.

    • Langit retak, jiwa menggugat ketika ruas-ruas jantung bagai mendidih menahan katup pedih.
      Aduhai Yamadipati putra Batara Semar, sungguhkah roh yang bukan sepasang itu menjadi petaka malang atas takdir hamba? Remuk ku mengalahkan sayatan hati Drupadi yang tak rela tatkala dipertaruhkan Yudhistira pada Dursasana. Maka aku memilih moksa, jika padanya mampu membebaskanku dari samsara.

      *hadeeh…cerita macam apa ini?*

  2. cerita pedih tentu saja. Mudah mudahan itu bukan cerita tentang ki*a.

  3. Aku mbaca paragraf tapi serasa mbaca syair tentang purnama….

    bagus mba syairnya … eh isi tulisannya 😀

    salam kenal

  4. wuhaaaahhh,..so high :mrgreen:
    hingga tak mampu kurabai untuk menerka apa yg mengalunn dilangit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: