Bukan Segitiga

By pitzputz

5 Mei 2011

Category: fiksi

15 Comments »

Agaknya kali ini aku kembali mengingatimu. Betapa menjadi menyebalkan ketika siluetmu selalu saja menempel layaknya lintah yang menceracap setiap tetes rindu, hingga aku terperas sangat dan hanya tertinggal ampas. Ya, ini salahku, ketika kamu tak pernah benar-benar mampu tersembunyi rapat di dalam peti, sebab aku selalu saja membiarkan peti itu dikunci sekedarnya, hingga kerap tergoda untuk berulang-ulang menjenguk pertemuan kali terakhir kita. Hey, jangan pernah di bayangkan ini sebuah pertemuan rahasia penuh cumbu manja di balik bilik bambu setinggi dada, namun hanya sebuah pertemuan tak sengaja yang membingkai sebuah rasa. Rasa yang meletup perlahan-lahan seiring kisah yang dijerang dalam cawan kehangatan, betapa segala keruwetan mampu kau urai menjadi damai. Atau rasa yang mengendap-endap bak pencuri hendak menyatroni sebuah ruang bernama hati, ketika sialnya adalah saat mendapati hati yang terpilih bukanlah seorang diri, rasa yang bukan pada tempat semestinya.

Maka pergi saja kamu, tak usah lagi kembali ke dalam peti, ketika satu hati dua kepala saja sudah sering membuatku gila, apalagi dipaksa menjadi tiga, sungguh betapa rumitnya. Kukira akan benar jika kita tak usah berlama-lama mendua menyulam senja, jadi kamu langsung saja berbalik ke utara menemuinya, dan begitu pula sebaliknya dengan aku, terus saja melenggang pulang ke selatan menjumpai Lelakiku.

Nyanyiku kini nyaris tanpa nada, namun bait-baitnya memanjang tak hingga dan denting melodi seakan meliuk tanpa jeda.

p.s. Lelakiku, kita pantas bahagia

Iklan

15 Responses to “Bukan Segitiga”

  1. kenapa kau paksa untuk menguburnya ? sementara rasa itu tak hendak mati….

  2. rasa yg tak pernah mati …. kenapa …???
    hai … salam kenal kembali, makasih ya , mbak ….telah berkunjung di rumah mayaku … smg persahabatan terjalin slamanya…

  3. sukaaa.. seneng baca yang kaya2 gini.. walaupun mikirnya agag2 susah, anyway… i love it..

  4. am i easy to forget ? Ya udah….aku pergi…..

  5. kalau hanya sekedar mengingat tak apalah pitz……kwkwkkw

    • tentu saja mbak nyit, seperti halnya mengemudi toh kita juga perlu melihat kaca spion untuk berhati-hati, waspada dan introspeksi. tapi tak melulu harus menengok ke belakang kan? karna jalan di depan itu lebih utama akan kita lalui hehehe….. #gak nyambung ya? 😀

  6. Nyanyiku kini nyaris tanpa nada, namun bait-baitnya memanjang tak hingga dan denting melodi seakan meliuk tanpa jeda.

    suka sekali kalimat di atas mbak 🙂

  7. Kukira akan benar jika kita tak usah berlama-lama mendua menyulam senja…

    nice…!!!!!! kereeeeennn!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: