Tlah habis waktu…

By pitzputz

12 Juni 2011

Category: fiksi

1 Comment »

Hari ini dirumah sedang ramai sekali orang, sepertinya mau ada hajatan. Beberapa ibu bergamis tampak berkumpul di ruang tengah dan dapur, sedangkan bapak-bapak terlihat sibuk menata kursi berderet-deret memanjang hingga pelataran. Samar ku dengar kasak-kusuk tetangga yang datang mengatakan mau ada pengajian, tapi entah mengapa terkesan begitu mendadak, sebab sang tuan rumah pun seperti kelabakan kurang persiapan. Lantas mengenai pengajian dalam rangka apa, aku juga kurang begitu paham, telingaku agak sedikit berdengung tadi, mungkin karena terlalu keras bunyi-bunyi Murotalan. Baiknya ku coba saja tanyakan pada kakak ipar yang tengah menurunkan lusinan kantong berisi mawar merah dari kijang hitam. Aku heran, untuk apa bunga-bunga indah itu dipesannya, jangan-jangan aku telah melewatkan sesuatu hal, mungkinkah hari ini ulang tahun Ibu, atau Buya yang sungguh aku lupa? mengapa mereka justru sama sekali tak terlihat disaat begitu banyak tetangga bertandang? Ah sudahlah, mungkin saja mereka terlalu sibuk hingga luput dari retinaku. Eh tapi tunggu sebentar, sedari tadi aku bertanya namun tak pernah ada jawab yang terlontar dari semua yang ada. Seolah aku dilewatkan begitu saja dari pandang orang sekitar. Ada apa ini, betapa setiap orang bungkam seribu bahasa seperti ada rahasia yang tak boleh sedikitpun aku mengetahuinya.

Akhirnya ada mobil datang, di teras beberapa orang berseragam tampak sedang mengusung paket segi empat yang sangat besar, hey hadiah spesial untuk siapa lagi itu? Buya terlihat lari tergopoh-gopoh menyambutnya, sedangkan Ibu ada dibelakangnya, beliau menggendong putri kecilku, kali ini anak manis itu menggunakan gaun putih panjang berpita merah jambu. Oh ya aku lupa menceritakan bahwa aku sudah menikah dan mempunyai anak perempuan yang tentu saja secantik ibunya. Meski sudah menikah namun kami masih tinggal di rumah besar orang tua, sebab aku adalah pewaris tunggal dari kekayaan mereka. Ya, kata orang terdekat sih aku adalah perempuan paling ambisius yang mereka kenal, ah aku selalu saja tersanjung mendengarnya, meskipun aku tak mengakuinya demikian, hanya sedikit bersemangat lebih tepatnya, sebab aku akan menggunakan segala macam cara demi mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi bukankah memang harus demikian? orang bijak bestari bilang hidup harus penuh perjuangan, jadi biarkan sajalah orang beranggapan miring, mungkin saja mereka itu sirik dan hanya berusaha mencari-cari kesalahan.

Paketan segi empat besar berwarna putih itu diletakkan di tengah ruangan, tepat dibawah lampu kristal yang menjuntaikan kaki jenjang. Lalu semua orang berebutan mendekat, mungkin rasa penasaran yang sama sedang bergumpal-gumpal di dalam dada. Dalam sambutan, Buya mengatakan bahwa hari ini akan mengantarkan aku untuk pindahan. Wah, sungguh melayang rasanya, Buya sekalipun tak pernah menyinggung hal ini sebelumnya, mungkin sengaja memberi kejutan yang membahagiakan. Beberapa orang yang ada dalam ruangan ini sontak terisak, bahkan sebagian meraung tak jelas entah mengapa. Lalu serta merta paketan besar itu diangkut kembali oleh bapak-bapak berseragam yang semula mengantarnya, dan mereka bilang akan membawanya ke rumahku yang baru. Ternyata banyak juga orang yang meneteskan haru, bahkan bahu Ibu berguncang kuat sekali, sampai-sampai putri kecilku hampir terjatuh dibuatnya.

Iring-iringan boyongan pun berangkat, dan setelah berjalan agak lama maka berhentilah pada suatu tempat yang sangat luas, dimana banyak pepohonan rindang disana. Ku pikir nyaman sekali jika aku nantinya akan menetap disini, terasa sejuk sampai ke hati. Namun lagi-lagi aku harus mengernyitkan dahi, mengapa di tempat ini tak ada satupun bangunan rumah seperti yang telah dijanjikan Buya? Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah papan-papan kecil menancap ditanah, sepertinya bertuliskan sesuatu atau entah apalah itu. Ehh tunggu dulu, kita bukan sedang berdiri di pemakaman kan? mereka bilang akan mengantarku pergi ke rumah baru, tapi mengapa harus kesini? aku tidak sedang mati kan? Tolong…jawab aku? Suamiku, dari tadi aku mencari-cari dirimu, mengapa engkau berdiri di bibir lubang? Apa sebenarnya yang sedang engkau persiapkan? Menguburku? Oh tidak, jangan katakan kotak besar persegi panjang tadi berisi mayatku…Tuhan, aku mohon tolong aku, aku belum ingin mati sekarang. Masih banyak yang harus ku kerjakan, tapi mengapa justru Engkau mematikanku sekarang Tuhan? Jika Kau ingin, ambillah semua harta dan kedudukan yang kupunya, tapi tolong ganti dengan nyawaku. Aku berjanji akan memperbaiki semua, aku berjanji akan terlahir kembali, menjadi manusia yang baik pekerti, tapi aku mohon ya Tuhan, kembalikan hidupku. Kembalikan hidupku….kembalikan hidupku….

bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari
masikah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu

dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yangg ada akan kembali padaNya

bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu telah terhenti
teman sejati tingallah sepi…

Iklan

One Response to “Tlah habis waktu…”

  1. Alangkah mengharukan posting ini sekaligus menyadarkan kita bahwa ‘hidup hanyalah sebuah perjalanan dlm rangka menghadap-NYA. Carilah bekal – amal dan ibadah sebanyak2nya – hanya itu yg bisa menolong kita kelak – Subhanallah …
    nice artikel … 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: