Episode Kemarau

By pitzputz

29 Juni 2011

Category: fiksi

8 Comments »

Kemarin, mungkin kemarin lusa, terlanjur ku pamerkan pada mereka bahwa rindu ini tak pernah kadaluarsa, hingga memetik decak kagum tak henti atas ikrar cinta yang tak pernah salah…

Ada ragu mendesak ke luar logika -setelah sebelumnya setengah hatiku yang lain menggugat- Kau tahu, ia tak lagi sepakat dengan senandung rinduku yang kali ini tak mampu menyanyikan melodi picisan lagi, katanya itu bukan lagi lagu rindu (belakangan aku baru tahu ia bernama lelah). Dan benar saja, ternyata aku mengikrarkan hal yang salah kali ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, tentang cinta yang tak pernah setengah hati (bahkan sekarang aku tak benar-benar yakin dengan apa itu cinta).

Agaknya kini aku mulai mengabu, lapis-lapis warna memudar ketika rasa kita tak lagi semanis madu. Betapa sebenarnya telah berulang kali aku setengah mati menahan resah yang tak mau berhenti, ku pikir akan lebih baik jika ku katakan yang sebenarnya, bahwa rindu yang mencapai nadir itu menjelmakan lelah dalam batin, teramat sangat. Namun yang acap terjadi adalah kita saling menipu diri, saling mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, pada akhirnya nanti (ah lagi-lagi ingin kutanyakan sampai manakah batasan akhir itu?).

Tak ingin menyalahkan sesiapapun, bahkan untuk sekedar menjentikkan telunjuk, aku seperti kehilangan semangat.  Salahku sendiri yang tanpa permisi telah begitu saja menyamaratakan bahasa hati? sebab ku pikir hati-hati kita masih saling mengerti makna meski kerap berbeda cara.

Seribu kali ku menatap gambarmu
Seribu kali ku menyebut namamu
Hasrat padamu kian mendesak kalbu
Namun selalu aku merasakan tak mampu

Kemana ku harus melangkah
Jejakmu samar-samar ku ikuti
Kemana ku harus melangkah
Cintamu terlalu sulit untukku

Terangilah kasih lentera cintamu itu
Agar ku tak jatuh dalam kegelapan
Agar ku tak jatuh dalam kegelapan

Lelakiku, beri aku sedikit waktu untuk berduka, atau ruang untuk mengenang sebuah arti kekalahan, hanya sekedarnya saja. Selanjutnya, mungkin tiba saatnya untuk kita mulai merenovasi cinta…dalam kemarau pucat tanpa warna.

Iklan

8 Responses to “Episode Kemarau”

  1. kena banget deh nih.. hiks :((

    makasih tulisannya…
    aku tahu sekarang…yang pernah kurasakan dulu adalah lelah…

    • sama seperti manusia, bahkan tak ada cinta yang benar-benar sempurna..harus berbesar hati agar bisa saling menerima dan berusaha mempertahankan apa yang telah dikirim Tuhan untuk kita 🙂 #sok bijak

  2. lentera cinta memang mampu menyinari dunia
    tetapi…ketika lentera itu telah mulai redup..bahkan nyaris padam ..
    apakah dia masih tetap bs menyinari ……hati yg telah dibalut lara ……

    acch…..terlalu lebay y……wk….

  3. Bagus. Saya suka yang berbau kemarau. Saya lebih suka panas ketimbang penghujan.

  4. Akankah kemarau itu menyimpan seribu janji?
    seribu janji pula tak terjawab? malah tak mampu ditepati?
    kalaulah itu yg terjadi … deretan kemarau kelabu semakin panjangkah?
    sebagai lelaki saya se7 – kamu lara sementara … namun jangan larut – OK?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: