dan Pelangi itu Mejikuhibiniu…

By pitzputz

26 Oktober 2011

Category: fiksi

12 Comments »

Masih saja bercerita tentang hujan, rinai-rinai rindu yang belum jua reda.
Entah mengapa, aromanya selalu menyeret remah ingatanku atas dirimu.
Bukan, bukan karena aku dan kamu pernah berlarian meningkahi derasnya dengan jemari bertautan,
justru secara tak sengaja bersama-sama terjebak dalam kebisuan tanpa nada, tanpa aksara
(jika saja boleh, kelak akan kusebut sebagai hati yang berbicara 😉 ).

Maka berterimakasihlah atas hujan yang turun sore tadi,
serta sambungan jarak jauh dari beribu depa.
Ada desiran menghangat, sungguh,
betapa mendengar gelakmu mampu menjelmakan pelangi di hujanku, membunuh waktu, mengurai rindu.

Tapi cukuplah aku dan kamu saja – untuk selamanya – tak perlu lantas menjadi kita.
Sebab setelah perbincangan telepon tadi terputus,
maka kamu harus kembali berbalik ke utara, dan aku pun begitu sebaliknya…

Iklan

12 Responses to “dan Pelangi itu Mejikuhibiniu…”

  1. rinai hujan..
    ada senyum hangat seseorang di sana..
    membuat rinduku memuncak tak bertepi…
    tapi samar..lalu hilang..
    yang tersisa hanya kebekuan menuju malam..

    hhhh…ada hujan, ada dirimu…ntah kau ada dimana saat ini…

  2. Kalau aku maunya… aku dan kamu terus menjadi kita… biar makin jelas indahnya rasa.
    Tapi… kok rasanya aku sampai kini belum menikmati hujan ya?

    • tentang aku, kamu dan kita…mungkin ini hanya persoalan kata ganti jamak dan tunggal saja ya? sebab indahnya rasa, sepertinya tak mempersoalkan rumitnya kosa kata 😀

      eniwei, di tempat saya udah hujan lho…tapi kecil-kecil 😉

  3. suasana hujan itu indah. menyenangkan, menenangkan. di awal menentramkan di akhir hati bernandung biru

  4. Kerinduan di balik rinai hujan
    Biarkan saja terpendam dalam angan
    Tak perlu harus diwujudkan….
    Rangkai saja sebagai sebuah keindahan

    Jika dia menendang…meronta..dan melesat ke awan…
    ….cukup…..katakan rindumu…kepada Bulan….

    • tapi bulan tak bertelinga, kau tahu meneriakinya pun semakin membuat hati nelangsa.
      maka biarlah rinduku ini lelah sendiri, hingga akhirnya ia kecut, mengkerut, lalu semaput.

      ah saya suka komennya…bikin mewek aja 😦

  5. Saya suka suasana setelah hujan, sungguh menyejukkan.

  6. hujan turun mengingatkan pada lagunya utopia-hujan, atau sheila o 7 – hujan turun ^^,

  7. Di sisi lain, hujan juga bisa bertabiat seperti nafsu.
    Jika sedikit dan terkendali, menyenangkan dan bermanfaat: suasana menjadi sejuk, pepohonan tumbuh subur, hewanpun menjadi gemuk, tetapi bila berlebihan … bencana banjir, longsor, dsb.
    Begitupun nafsu, punya nafsu makan…dambaan setiap insan, tapi berlebihan…..

    Salam kenal,
    by: http://gunawank.wordpress.com/category/artikel-islam/

  8. berkunjung malam neng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: