Mendung

By pitzputz

30 November 2011

Category: fiksi

13 Comments »

Siang bermendung,
gerimis turun melambat,
sehelai angin tipis membawa gigil,
dingin menusuk sampai ke sumsum,
dedaunan tua bercerai merendah, menuju takdirnya kembali ke tanah,
tak ada yang aneh, hanya ada mimpi yang minta disegerakan,
serta kenangan yang boleh jadi ingin dikekalkan.

Bagiku, kebebasan adalah kehampaan,
ketika ruang melebar-meluas, aku malah tak tau bagaimana cara ku menghela napas,
dan kau tahu, rindu itu lagi-lagi kamu,
yang kian dipenggal jarak, dan semakin beranak pinak.

Iklan

13 Responses to “Mendung”

  1. hwaaaaa….lagi-lagi mengintip isi kepalakuuu… :((

  2. mendung dihulu kelabu dihilir, gentayangan hilir mudik… 🙂

  3. aku jadi ingat sebuah pepatah, jika kita bingung dalam wilayah keluasan yang lebar, maka kita nggak cocok untuk jadi penguasa di wilayah itu. Dan jika kita bingung mau digunakan untuk apa ketika memiliki duit banya, maka ternyata kita nggak cocok jadi orang kaya …

    xixixiii nyambung gak yah ?

  4. Weleh..kalo ngaku tulisan mba pitz gw banget tar dkatain kembar 3..
    ga jadi ah…

    Jempol buat tulisan ini.huhuhu..

  5. Nice poet…i like it..salam kenal yaa..

  6. Senjaku bermendung lalu menghujan….
    setiap detiknya kian deras membandang….
    tak sanggup mata memandang…
    hanya putih yang terbentang….
    terlihat….terlihat…
    seperti peri bersutra putih di aliran sungai…
    terduduk di bebatuan….
    dengan senyum…..yang kuasa tuk dipandang…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: